JIPS - Jakarta International Pet Show

JIPS PRESS & MEDIA

NEWS & MEDIA

Dapatkan kabar terkini, siaran pers resmi, serta liputan media seputar Jakarta International Pet Show (JIPS)!

Kisah Kucing dan Sugar Glider Menjadi Selebritas Baru di Media Sosial
article
23 Apr 2026

Kisah Kucing dan Sugar Glider Menjadi Selebritas Baru di Media Sosial

JAKARTA, KOMPAS.com — Sepintas, mereka hanyalah makhluk berbulu yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mendengkur atau mengejar ekor sendiri.Namun, di balik tingkah polos dan wajah menggemaskan itu, hewan-hewan ini kini menjelma menjadi “selebritas” baru dengan pengaruh nyata di media sosial.Dari ruang tamu hingga layar ponsel jutaan orang, mereka tak lagi sekadar peliharaan yang setia menunggu di rumah, melainkan figur publik di dunia digital.Fenomena ini dirasakan langsung oleh Anisa Dwi (28), atau Ica, pemilik kucing populer Neng Molen.Akun @Nengmolencantik yang kini memiliki ratusan ribu pengikut, awalnya hanya dibuat sebagai dokumentasi pribadi.Ica mengaku tak pernah merencanakan menjadikan hewan peliharaannya sebagai selebritas. Neng Molen, kucing pertama yang ia pelihara, tumbuh dengan karakter yang menonjol di rumah.Keunikan karakter Neng yang “alfa” dan penuh tingkah membuatnya digemari warganet.“Kalau Neng itu kan walaupun terlihatnya galak tapi dia sebenarnya bisa berinteraksi dengan manusia gitu loh, enggak takut sama manusia lebih tepatnya dibandingkan anak-anaknya yang lumayan agak susah," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).Persona unik di balik layarIca mengaku tidak mengikuti tren konten hewan yang ramai di media sosial. Popularitas yang datang justru di luar dugaannya.Salah satu kunci keberhasilan Neng Molen adalah persona yang kuat. Di tengah banjir konten hewan lucu, Neng menonjol lewat ekspresi wajahnya yang khas—sering disebut warganet sebagai “judes” namun tetap menggemaskan.Konten yang diunggah pun dibuat spontan, tanpa skenario."Jadi by moment aja sih kalau Neng bertingkah apa kita langsung record makanya kalau orang lihat konten aku lagi ketawa ya aku kan naturalnya ketawa kayak gitu karena reaksi langsung," ujarnya.Karena itu, Ica harus selalu sigap dengan ponselnya agar tak kehilangan momen."Jujur iya lagi aku kayak Handphone tuh kalau udah agak jauh kayak 'duh mana handphone mana handphone' enggak boleh hilang moment," kata Ica.Dari layar ke panggung offlineSeiring meningkatnya popularitas, berbagai peluang mulai berdatangan. Neng Molen tak lagi hanya hadir di media sosial, tetapi juga mulai tampil di dunia nyata."Kayaknya kalau itu mulai ada undangan sebenarnya dari 2024 akhir, cuman kalau mulai udah ada kasarnya mengisi talkshow yang solo kayak di mall 2025 dari talkshow, meet and greet gitu," ujarnya.Selain tingkah lucunya, Neng juga dikenal karena gaya berpakaiannya yang modis, lengkap dengan aksesoris yang membuatnya tampak seperti “sosialita” di dunia kucing.Profesionalisme dan “mood” hewanMenjadi selebritas berarti berhadapan dengan kontrak kerja dan tuntutan profesional. Dunia pet-fluencer kini meluas, tak hanya soal produk hewan, tetapi juga gaya hidup hingga kecantikan.Namun, bekerja dengan hewan memiliki tantangan tersendiri, terutama soal suasana hati.Ica menegaskan bahwa ia selalu menyesuaikan proses produksi konten dengan kondisi Neng."Aku pasti nunggu mood Neng tuh bagus jadi enggak ada cara khusus. Jadi kayak script aja aku tuh pasti menyesuaikan, misalnya kayak sorry brand minta storyline nih aku pasti dikasih noted kondisi Neng disesuaikan, jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain kita sesuaikan aja," ungkapnya.Proses pembuatan satu konten endorsement bahkan bisa memakan waktu 5 hingga 14 hari demi menjaga kenyamanan hewan.Ia juga selektif dalam memilih kerja sama, termasuk menolak promosi layanan keuangan tertentu.“Misalnya aku pernah dapet tawaran itu Kayak Paylater, Pinjol aku enggak nerima tuh yang kayak gitu," katanya.Selain itu, Ica memastikan produk yang dipromosikan aman, mengingat Neng memiliki alergi tertentu.Kritik hingga dampak emosionalPopularitas tak selalu berarti pujian. Ica mengaku kerap menerima komentar miring, terutama terkait pola perawatan Neng.Salah satu kritik yang sering muncul adalah soal mengapa Neng jarang dibiarkan bermain di luar ruangan."Padahal kan mereka enggak tahu Neng tuh alergi rumput. Jadi aku enggak boleh membiarkan Neng ke rumput karena Neng bisa gatel-gatel bahkan sampai botak dan itu kan membahayakan dia," jelas Ica.Meski demikian, ia tetap konsisten membuat konten karena merasakan dampak positif bagi audiens."Aku sendiri pengin spreading happiness yang ada di rumah aku. Karena enggak sekali dua kali aku dapet DM yang menyentuh hati ya orang lagi depresi, orang lagi sakit cancer bahkan kayak bilang keseharian mereka tuh jauh lebih berwarna karena nonton konten Neng," tuturnya.Perawatan di balik popularitasDi balik popularitas tersebut, perawatan Neng menjadi perhatian utama. Kondisi alergi membuat Ica harus ekstra hati-hati.Ia menjelaskan bahwa alergi bisa muncul tanpa disadari, misalnya dari paparan luar yang terbawa ke dalam rumah.“Kalau Neng itu karena punya alergi tadi aku kan enggak bisa ngontrol Itu kan alerginya, misal habis jalan dari luar aku membawa sari rumput itu aku enggak tahu. Jadi aku disarankan sama dokter itu paling maksimal tuh dua minggu sekali lah," ujarnya.Neng dimandikan setiap dua minggu sekali dan rutin diperiksakan ke dokter hewan setiap satu hingga dua bulan.“Dua minggu sekali aku mandiin Neng terus sebulan sekali aku ngontrol ke dokter. Kalau ke dokter itu sebulan atau dua bulan sekali," jelas dia.Sugar glider ikut naik daunFenomena selebritas hewan juga merambah ke hewan eksotis, seperti sugar glider. Siska Ermaya (22), pemilik akun Luna II Sugar Glider, merasakan hal serupa.Awalnya, akun tersebut hanya digunakan untuk konten pribadi."Pertama membuat akun tahun 2025 awalnya untuk konten diri sendiri tapi karena banyak stok video dan foto hewan peliharaan saya si Luna jadi saya mulai iseng post di akun ini dan ternyata views-nya banyak langsung fyp," ujar Siska saat dihubungi melalui TikTok, Rabu.Bagi Siska, konten ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi."Karena winning konten aku ada saat aku post hewan peliharaan aku dan lebih ingin mengedukasi tentang sugar glider," katanya.Tantangan hewan nokturnalMengelola konten sugar glider memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang sensitif terhadap cahaya."Karena sugar glider hewan yang sensitif dengan cahaya matahari jadi untuk take konten agar mereka lebih aktif biasanya dilakukan saat suasana rumah redup, atau juga dilakukan kontennya siang hari saat mereka cenderung lebih pasif biasanya untuk konten bareng aku atau take video endorse," jelas Siska.Keunikan fisik dan kemampuan meluncur menjadi daya tarik utama yang memancing rasa penasaran warganet."Karena keunikan atau perlakuan berbeda itu mendatangkan pertanyaan dari para penonton jadi disana kita bisa sharing lewat komentar dan lainnya," tuturnya.Konsistensi dan peluang usahaPertumbuhan akun Siska terbilang cepat, dari ratusan pengikut hingga hampir 10.000.Peluang penghasilan pun mulai terbuka, meski masih terbatas."Kurang lebih 300.000 karena memang produk sugar glider kan jarang ya terus aku juga emang jarang menerima endorse hanya beberapa produk saja," ujar dia.Selain menjadi kreator, Siska juga merintis usaha pouch rajut buatannya sendiri.Ia tetap menjaga konsistensi dengan mengunggah dua hingga tiga konten per minggu, sekaligus memastikan akunnya menjadi sumber edukasi yang akurat."Tantangannya paling kita benar benar harus banyak mempelajari tentang hewannya, terlebih banyak orang yang mencari tau edukasi dari akun saya jadi saya harus benar benar memberi tips yang aman dan sesuai," ungkap dia.Tak cukup lucu, harus unik Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai keberhasilan hewan menjadi selebritas media sosial sangat bergantung pada keunikan."Karena sekali lagi tadi harus ada keunikan dari binatang itu kalau binatang itu cuma binatang reguler ya tidak bisa punya satu hal yang menarik bagi orang tentunya tidak akan bisa menjadi selebriti," jelas Rissalwan.Ia menambahkan, ketertarikan audiens juga dipengaruhi minat personal serta interaksi antara pemilik dan hewan."Misalnya kucing ya dia akan mencari konten-konten yang menarik dengan kucing dan tadi kucing itu punya keunikan ya. Misalnya bulunya bagus, peranakan dari mana, punya kemampilan khusus. Burung juga gitu ya," kata dia.Antara hiburan dan kesejahteraan hewan Elsa dari komunitas pecinta kucing menilai konten hewan kini berkembang, tidak hanya menampilkan sisi lucu, tetapi juga karakter dan alur cerita.Menurutnya, tren ini membawa dampak positif, mulai dari edukasi hingga hiburan bagi publik.“Salah satunya meningkatkan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare), mengedukasi tentang cara merawat kucing yang benar, dan menjadi hiburan (stress relief) bagi penontonnya," ujar Elsa.Namun, ia mengingatkan agar kreator tetap mengutamakan kenyamanan hewan.“Jika ingin menjadikan kucingmu bintang media sosial, ingatlah kesejahteraan kucing lebih utama daripada jumlah pengikut. Pahami Bahasa Tubuh, jika ekornya bergerak cepat atau telinganya turun, artinya dia tidak nyaman. Berhenti merekam," jelasnya. Ia juga mendorong kreator untuk berperan sebagai edukator, termasuk menyampaikan pentingnya sterilisasi dan vaksinasi dalam perawatan hewan peliharaan.Artikel Selengkapnya: Kompas.com

Baca Artikel âž”
Mengenal Maltase, Anjing Lucu yang Curi Perhatian di Drakor Yumi's Cells 3
article
18 Apr 2026

Mengenal Maltase, Anjing Lucu yang Curi Perhatian di Drakor Yumi's Cells 3

Jakarta, Times Indonesia -  Drama Korea Yumi's Cells 3 langsung meraih rating tinggi di awal penayangannya. Bukan karakter utama atau animasi sel Yumi yang bikin penonton gemas, tapi Koko seekor anjing ras maltase.Koko merupakan anjing milik Ruby, sahabat Yumi. Ruby sudah terbiasa menitipkan Koko pada Yumi, itu juga karena Yumi senang dengan anjing. 'Desa Yumi' (daerah dalam otak Yumi) mendadak kembali 'hidup' setelah kedatangan Koko. Desa itu memang sulit dimasuki oleh siapapun, kecuali sesuatu yang lucu. Sebelumnya seekor katak dari Go Woong sukses memasuki Desa Yumi. Kini seekor anjing lucu dari ras maltase.Dalam cerita Yumi's Cells 3 Koko digambarkan sebagai anjing putih dengan bulu halus yang tebal. Koko juga lucu yang mudah akrab dengan seseorang, tidak berisik, pokoknya tidak merepotkan Yumi. Koko juga sering mencairkan suasana canggung antara Yumi dan Soon Rok, editor baru Yumi. Maklum sana Shin Soon Rok orang yang sangat pendiam, jadi Yumi merasa canggung saat bersamanya. Lalu seperti apa sebenarnya ras maltase itu?Maltase berasal dari Malta sebuah pulau kecil di Laut Mediterania. Makanya diberi nama ras maltase. Anjing ini punya karakterisitik badan yang mungil dengan tinggi antara 18-23 cm dan berat badannya di bawah 3,2 kg. Bulunya putih halis dan tebal. Maltase juga punya kepribadian yang penyayang, setia, namun juga aktif dan cerdas. Karena itu ia tidak suka ditinggal sendirian dalam waktu yang lama. Maltase termasuk ras anjing yang istimewa, ia banyak dijadikan peliharaan utamanya para bangsawan, Gerakanya yang aktif dan penyayang membuat maltase dipilih untuk membantu terapi penyakit tertentu. Kelemahannya, anjing maltase tidak boleh terlalu seringterpapar matahari. Bulunya juga mudah rontok jika kirang perawatan. Ruangan dengan suhu anormal cenderung dingin menjadi favoritnya.Gimana, ingin pelihara anjing Maltase seperti di drama Yumi's Cells?Artikel Selengkapnya : timesindonesia.co.id

Baca Artikel âž”
Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor
article
17 Apr 2026

Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor

Stres dengan rekan kerja menyebalkan dan bos yang uring-uringan? Ingin healing dengan mengambil cuti tetapi selalu terkendala? Atau tidak punya kesempatan libur karena kerja keras hingga nyaris gila? Mungkin, healing dengan bermain bareng hewan peliharaan bisa kamu coba lakukan.Studi Bilang: Hewan Bisa Meningkatkan Perasaan Dukungan SosialMelansir laman NIH News, berinteraksi dengan hewan telah terbukti menurunkan kadar kortisol—hormon penyebab stres, dan mampu menurunkan tekanan darah. Studi lain mengatakan bahwa hewan bisa mengurangi rasa kesepian, meningkatkan perasaan dukungan sosial, hingga meningkatkan suasana hati, meski tidak secara spesifik menegaskan hewan tertentu apa saja.“Tidak ada satu jawaban pasti tentang bagaimana hewan peliharaan bisa membantu seseorang dengan kondisi tertentu,” jelas Dr. Layla Esposito, pengawas Program Penelitian Interaksi Manusia-Hewan NIH.“Apakah tujuan Anda adalah untuk meningkatkan aktivitas fisik? Maka Anda bisa memelihara anjing dan mengajaknya jalan-jalan beberapa kali sehari sehingga kekuatan fisik Anda bertambah. Kemudian, kalau tujuannya adalah untuk meredakan stres, maka melihat ikan berenang bisa menciptakan rasa tenang. Sehingga, tidak ada satu jenis hewan yang cocok untuk semua orang.”Memang sih, tidak ada jawaban pasti mengapa hal ini terjadi, pun penelitian ilmiahnya. Namun, fakta bahwa bermain dengan hewan peliharaan itu mampu meredakan stres cukup diakui oleh banyak orang. Termasuk saya sendiri setelah bertemu kucing peliharaan yang cerewet di rumah.Memberi Makan Anabul Rasanya Senang SekaliAda yang memiliki akuarium atau kolam ikan di rumah? Jika iya, maka kamu bisa memanfaatkannya sebagai media terapi mental yang manjur. Dengan memberi makan ikan, kemudian mengamati bagaimana mereka berebut makanan atau berenang ke sana kemari, rasanya plong sekali. Ibarat beban yang menumpuk di pundak seharian ini jatuh begitu saja. Rasanya seperti ada kepuasan pribadi dan rasa syukur yang mampu menghadirkan senyum manis.Terkadang, kamu tidak harus memelihara ikan hias kok untuk merasakan terapi ini. Kamu bisa memelihara ikan konsumsi seperti lele, yang nantinya bisa dipanen dan dimasak. Jadi, efeknya lebih dobel. Mampu meredakan stres, sekaligus meredakan lapar, haha!Solusi Healing bagi Kaum IntrovertSebagai kaum introvert yang doyan rebahan di rumah, saya sendiri merasa lebih segar setelah memberi makan kucing dan ikan ketimbang berjalan-jalan ke luar. Memang bagi sebagian orang terlihat aneh karena dianggap nolep atau tidak mau berinteraksi dengan orang luar. Namun, kaum introvert pasti mengerti betapa penatnya berada dalam kerumunan manusia.Bukan berarti tidak mau bersosialisasi ya, tapi memang kurang suka keramaian. Bermain dengan kucing rasanya lebih plong daripada pergi ke mal, tentunya lebih hemat bujet. Memberi makan ikan terasa lebih hangat daripada pergi ke konser. Toh, setiap orang memiliki jalan healing mereka masing-masing.Artikel Selengkapnya: Suara.com

Baca Artikel âž”
5 Fakta Kuhls Flying Gecko, Cicak Unik yang Bisa Meluncur di Udara
article
16 Apr 2026

5 Fakta Kuhls Flying Gecko, Cicak Unik yang Bisa Meluncur di Udara

Kuhl's Flying Gecko, atau yang memiliki nama ilmiah Gekko kuhli, merupakan salah satu spesies cicak unik di dunia reptil. Hewan ini dikenal karena kemampuannya meluncur di antara pepohonan.Meski tidak benar-benar terbang, cicak ini memanfaatkan adaptasi kulit khusus untuk melayang di udara. Spesies yang hidup di kawasan Asia Tenggara ini juga memiliki kemampuan kamuflase yang membuatnya sangat sulit ditemukan di alam liar. Berikut lima fakta menarik seputar Kuhl's Flying Gecko yang menarik untuk dipelajari.1. Adaptasi fisik untuk meluncur dan menyamarKuhl's Flying Gecko memiliki lipatan kulit di sisi tubuh, kaki, dan kepala, serta ekor yang pipih. Bagian-bagian ini berfungsi sebagai alat aerodinamis untuk meluncur jarak pendek di antara pepohonan. Adaptasi tersebut memudahkan cicak berpindah tempat dengan cepat sekaligus membantu pendaratan yang aman di batang pohon. Selain itu, bantalan jarinya dilengkapi rambut mikroskopis yang membuatnya mampu menempel kuat di berbagai permukaan.Kemampuan kamuflase hewan ini sangat efektif karena pola dan warna kulitnya dapat berubah mengikuti lingkungan sekitar. Sering kali, hanya bagian matanya yang terlihat saat cicak ini menempel di kulit pohon. Lipatan kulit pada tubuhnya tidak hanya berguna untuk meluncur, tetapi juga menyamarkan bentuk tubuhnya agar tidak terdeteksi oleh predator di hutan.2. Sebaran habitat di kawasan Asia TenggaraSpesies ini tersebar luas mulai dari Semenanjung Malaya seperti Thailand selatan, Malaysia, dan Singapura, hingga pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Borneo, dan Sulawesi. Habitat utamanya adalah hutan dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Mereka biasanya hidup secara arboreal atau menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon.Kuhl's Flying Gecko tergolong hewan yang adaptif karena dapat ditemukan di hutan primer yang lebat maupun hutan sekunder. Pada malam hari, cicak ini sering terlihat di batang pohon besar atau di area yang dekat dengan sumber cahaya buatan di pinggir hutan untuk mencari makan.3. Aktivitas malam hari dan cara menjaga suhu tubuhSebagai hewan nokturnal, cicak ini aktif pada malam hari. Namun, mereka juga bersifat heliotermik, yaitu kebiasaan berjemur di siang hari untuk mengatur suhu tubuh. Saat beristirahat di siang hari, mereka akan menempel di celah pohon. Organ internal mereka memiliki pigmen khusus yang berfungsi melindungi tubuh dari paparan sinar ultraviolet saat berjemur.Hewan ini juga memiliki suara komunikasi yang beragam, seperti suara chirp untuk menarik pasangan atau suara peringatan saat merasa terganggu. Karena memiliki kulit yang cenderung rapuh, Kuhl's Flying Gecko biasanya menghindari kontak langsung dengan manusia dan lebih banyak berdiam diri di ketinggian pohon pada siang hari.4. Pola makan serangga untuk mendukung energiKuhl's Flying Gecko adalah hewan insektivora yang memangsa berbagai serangga kecil seperti ngengat dan jangkrik. Mereka memanfaatkan cahaya alami maupun lampu bangunan di pinggir hutan untuk menarik perhatian mangsa. Pola makan yang kaya protein ini sangat penting untuk mendukung kebutuhan energi mereka, terutama untuk aktivitas meluncur yang membutuhkan kekuatan fisik.Di alam liar, ketersediaan serangga di kanopi hutan tropis menjadi sumber nutrisi utama bagi mereka. Sementara itu, dalam lingkungan penangkaran, pemberian pakan serangga yang bervariasi dan tambahan kalsium sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang dan fungsi tubuhnya.5. Siklus reproduksi dan status perlindungan populasiDalam hal reproduksi, cicak ini bersifat ovipar atau berkembang biak dengan cara bertelur. Biasanya, induk akan mengeluarkan dua butir telur yang ditempelkan pada celah pohon atau bangunan. Masa inkubasi telur ini berlangsung antara 58 hingga 127 hari, tergantung pada kondisi suhu lingkungan sekitar. Beberapa individu sering kali menggunakan tempat bertelur yang sama secara bersamaan.Berdasarkan data IUCN, Kuhl's Flying Gecko masuk dalam status konservasi Least Concern, yang berarti populasinya saat ini masih tergolong stabil. Di alam liar, rata-rata usia hidup mereka berkisar antara 3 hingga 5 tahun, namun dapat mencapai 10 tahun jika dipelihara dengan perawatan yang tepat di penangkaran. Keberadaan spesies ini menjadi salah satu indikator penting bagi kesehatan ekosistem hutan tropis.Artike Selengkapnya: IDNTimes.com

Baca Artikel âž”
Alasan Kucing Takut Timun Penjelasan Medis Dokter Hewan
article
13 Apr 2026

Alasan Kucing Takut Timun Penjelasan Medis Dokter Hewan

Semarang (usmnews) – Pembahasan alasan kucing takut timun selalu memancing gelak tawa para pemilik hewan berbulu. Banyak orang merasa heran melihat reaksi kaget peliharaan mereka. Bahkan, masyarakat sering menonton video viral mengenai fenomena lucu ini melalui layar telepon seluler. Pemilik hewan meletakkan sayuran hijau itu pada area belakang tubuh anabul secara diam-diam. Padahal, dokter hewan melarang tindakan iseng ini karena memicu stres berat bagi sang peliharaan.Melansir ulasan kesehatan dari Halodoc, pakar fauna merinci penjelasan ilmiah mengenai respons kaget ini. Rangkuman alasan kucing takut timun ini memberikan edukasi penting bagi pecinta hewan nusantara. Tentu saja, informasi ini membuka wawasan publik mengenai insting alami mamalia karnivora mini. Selanjutnya, mari kita membahas rentetan fakta biologi satwa berbulu ini secara mendalam.Kemiripan Ular dan Insting LiarPertama, satwa berbulu ini memiliki insting bertahan hidup yang sangat tajam sejak zaman purba. Mereka menganggap benda hijau memanjang itu menyerupai sosok ular berbisa. Selain itu, reptil melata memegang status sebagai predator alami yang mengancam nyawa mamalia kecil ini. Hewan peliharaan ini langsung melompat tinggi saat melihat sayuran itu secara tiba-tiba. Akibatnya, mereka merespons ancaman palsu itu menggunakan mode kabur demi menyelamatkan diri secara kilat.Kemudian, kemunculan benda asing secara mendadak juga memicu respons panik luar biasa. Sebab, pemilik sering meletakkan sayuran ini saat sang anabul sedang asyik menyantap makanan. Di sisi lain, mamalia darat ini menganggap area mangkuk makan sebagai zona paling aman. Kejutan mendadak ini merusak rasa aman sang hewan peliharaan secara seketika.Dampak Stres dan Larangan JahilLebih lanjut, pakar kesehatan hewan sangat melarang pemilik melakukan kejahilan ini setiap hari. Tindakan menakut-nakuti ini memicu trauma psikologis bagi mental sang peliharaan kesayangan. Mereka berpotensi mengalami hilang nafsu makan atau marah saat berinteraksi bersama manusia. Pemilik wajib menjaga kenyamanan lingkungan rumah agar hewan peliharaan terus merasa tenang.Kesimpulannya, ulasan alasan kucing takut timun ini mengajarkan kita tentang pentingnya empati kepada satwa. Kita wajib menyayangi hewan peliharaan sepenuh hati tanpa melakukan aksi jahil berlebihan. Maka dari itu, mari kita menghentikan tren video menakut-nakuti anabul mulai dari hari ini juga. Kita harus merawat mereka menggunakan kasih sayang agar mamalia berbulu ini tumbuh sehat menemani rutinitas kita.Artikel Selengkapnya: USMTV.id

Baca Artikel âž”
Manfaat Memelihara Hewan untuk Kesehatan Mental dan Ketenangan Jiwa
article
04 Apr 2026

Manfaat Memelihara Hewan untuk Kesehatan Mental dan Ketenangan Jiwa

RRI.CO.ID, Surabaya - Memelihara hewan kini bukan sekadar hobi melainkan cara efektif menjaga kesehatan mental manusia. Kehadiran hewan di rumah memberikan dukungan emosional yang signifikan bagi pemiliknya setiap hari.Dilansir dari laman News in Health, berinteraksi dengan hewan dapat menurunkan kadar hormon kortisol. Penurunan hormon stres ini membantu tubuh merasa lebih rileks serta tenang secara psikologis.Selain itu, bermain dengan anjing atau kucing mampu memicu pelepasan hormon oksitosin dalam otak. Hormon cinta ini berperan penting dalam menciptakan rasa bahagia serta kedekatan emosional yang kuat.Sementara Johns Hopkins Medicine, menyatakan kehadiran hewan peliharaan efektif mengurangi rasa kesepian dan kecemasan berlebih. Mereka menjadi pendengar setia yang memberikan rasa aman tanpa menghakimi kondisi perasaan sang pemilik. Hal ini sangat membantu individu yang sedang berjuang menghadapi tantangan mental di tengah kesibukan dunia.Memiliki hewan kesayangan juga mendorong pemiliknya untuk memiliki rutinitas harian yang jauh lebih teratur. Tanggung jawab memberi makan serta merawat hewan memberikan tujuan hidup yang positif bagi setiap orang.Dilansir dari penelitian Washington State University, membelai hewan selama sepuluh menit dapat mengurangi stres secara instan. Aktivitas fisik sederhana ini terbukti memberikan dampak positif bagi stabilitas emosi masyarakat di wilayah perkotaan.Keselarasan antara manusia dan hewan peliharaan menciptakan ekosistem kehidupan yang jauh lebih harmonis serta damai. Mari jadikan hewan sebagai teman setia dalam menjaga ketenangan jiwa di tengah dinamika dunia modern.Artikel Selengkapnya: RRI.co.id

Baca Artikel âž”