Back to News
article
23 Apr 2026
Kisah Kucing dan Sugar Glider Menjadi Selebritas Baru di Media Sosial
JAKARTA, KOMPAS.com — Sepintas, mereka hanyalah makhluk berbulu yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mendengkur atau mengejar ekor sendiri.
Namun, di balik tingkah polos dan wajah menggemaskan itu, hewan-hewan ini kini menjelma menjadi “selebritas” baru dengan pengaruh nyata di media sosial.
Dari ruang tamu hingga layar ponsel jutaan orang, mereka tak lagi sekadar peliharaan yang setia menunggu di rumah, melainkan figur publik di dunia digital.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh Anisa Dwi (28), atau Ica, pemilik kucing populer Neng Molen.
Akun @Nengmolencantik yang kini memiliki ratusan ribu pengikut, awalnya hanya dibuat sebagai dokumentasi pribadi.
Ica mengaku tak pernah merencanakan menjadikan hewan peliharaannya sebagai selebritas. Neng Molen, kucing pertama yang ia pelihara, tumbuh dengan karakter yang menonjol di rumah.
Keunikan karakter Neng yang “alfa” dan penuh tingkah membuatnya digemari warganet.
“Kalau Neng itu kan walaupun terlihatnya galak tapi dia sebenarnya bisa berinteraksi dengan manusia gitu loh, enggak takut sama manusia lebih tepatnya dibandingkan anak-anaknya yang lumayan agak susah," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Persona unik di balik layar
Ica mengaku tidak mengikuti tren konten hewan yang ramai di media sosial. Popularitas yang datang justru di luar dugaannya.
Salah satu kunci keberhasilan Neng Molen adalah persona yang kuat. Di tengah banjir konten hewan lucu, Neng menonjol lewat ekspresi wajahnya yang khas—sering disebut warganet sebagai “judes” namun tetap menggemaskan.
Konten yang diunggah pun dibuat spontan, tanpa skenario.
"Jadi by moment aja sih kalau Neng bertingkah apa kita langsung record makanya kalau orang lihat konten aku lagi ketawa ya aku kan naturalnya ketawa kayak gitu karena reaksi langsung," ujarnya.
Karena itu, Ica harus selalu sigap dengan ponselnya agar tak kehilangan momen.
"Jujur iya lagi aku kayak Handphone tuh kalau udah agak jauh kayak 'duh mana handphone mana handphone' enggak boleh hilang moment," kata Ica.
Dari layar ke panggung offline
Seiring meningkatnya popularitas, berbagai peluang mulai berdatangan. Neng Molen tak lagi hanya hadir di media sosial, tetapi juga mulai tampil di dunia nyata.
"Kayaknya kalau itu mulai ada undangan sebenarnya dari 2024 akhir, cuman kalau mulai udah ada kasarnya mengisi talkshow yang solo kayak di mall 2025 dari talkshow, meet and greet gitu," ujarnya.
Selain tingkah lucunya, Neng juga dikenal karena gaya berpakaiannya yang modis, lengkap dengan aksesoris yang membuatnya tampak seperti “sosialita” di dunia kucing.
Profesionalisme dan “mood” hewan
Menjadi selebritas berarti berhadapan dengan kontrak kerja dan tuntutan profesional. Dunia pet-fluencer kini meluas, tak hanya soal produk hewan, tetapi juga gaya hidup hingga kecantikan.
Namun, bekerja dengan hewan memiliki tantangan tersendiri, terutama soal suasana hati.
Ica menegaskan bahwa ia selalu menyesuaikan proses produksi konten dengan kondisi Neng.
"Aku pasti nunggu mood Neng tuh bagus jadi enggak ada cara khusus. Jadi kayak script aja aku tuh pasti menyesuaikan, misalnya kayak sorry brand minta storyline nih aku pasti dikasih noted kondisi Neng disesuaikan, jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain kita sesuaikan aja," ungkapnya.
Proses pembuatan satu konten endorsement bahkan bisa memakan waktu 5 hingga 14 hari demi menjaga kenyamanan hewan.
Ia juga selektif dalam memilih kerja sama, termasuk menolak promosi layanan keuangan tertentu.
“Misalnya aku pernah dapet tawaran itu Kayak Paylater, Pinjol aku enggak nerima tuh yang kayak gitu," katanya.
Selain itu, Ica memastikan produk yang dipromosikan aman, mengingat Neng memiliki alergi tertentu.
Kritik hingga dampak emosional
Popularitas tak selalu berarti pujian. Ica mengaku kerap menerima komentar miring, terutama terkait pola perawatan Neng.
Salah satu kritik yang sering muncul adalah soal mengapa Neng jarang dibiarkan bermain di luar ruangan.
"Padahal kan mereka enggak tahu Neng tuh alergi rumput. Jadi aku enggak boleh membiarkan Neng ke rumput karena Neng bisa gatel-gatel bahkan sampai botak dan itu kan membahayakan dia," jelas Ica.
Meski demikian, ia tetap konsisten membuat konten karena merasakan dampak positif bagi audiens.
"Aku sendiri pengin spreading happiness yang ada di rumah aku. Karena enggak sekali dua kali aku dapet DM yang menyentuh hati ya orang lagi depresi, orang lagi sakit cancer bahkan kayak bilang keseharian mereka tuh jauh lebih berwarna karena nonton konten Neng," tuturnya.
Perawatan di balik popularitas
Di balik popularitas tersebut, perawatan Neng menjadi perhatian utama. Kondisi alergi membuat Ica harus ekstra hati-hati.
Ia menjelaskan bahwa alergi bisa muncul tanpa disadari, misalnya dari paparan luar yang terbawa ke dalam rumah.
“Kalau Neng itu karena punya alergi tadi aku kan enggak bisa ngontrol Itu kan alerginya, misal habis jalan dari luar aku membawa sari rumput itu aku enggak tahu. Jadi aku disarankan sama dokter itu paling maksimal tuh dua minggu sekali lah," ujarnya.
Neng dimandikan setiap dua minggu sekali dan rutin diperiksakan ke dokter hewan setiap satu hingga dua bulan.
“Dua minggu sekali aku mandiin Neng terus sebulan sekali aku ngontrol ke dokter. Kalau ke dokter itu sebulan atau dua bulan sekali," jelas dia.
Sugar glider ikut naik daun
Fenomena selebritas hewan juga merambah ke hewan eksotis, seperti sugar glider. Siska Ermaya (22), pemilik akun Luna II Sugar Glider, merasakan hal serupa.
Awalnya, akun tersebut hanya digunakan untuk konten pribadi.
"Pertama membuat akun tahun 2025 awalnya untuk konten diri sendiri tapi karena banyak stok video dan foto hewan peliharaan saya si Luna jadi saya mulai iseng post di akun ini dan ternyata views-nya banyak langsung fyp," ujar Siska saat dihubungi melalui TikTok, Rabu.
Bagi Siska, konten ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi.
"Karena winning konten aku ada saat aku post hewan peliharaan aku dan lebih ingin mengedukasi tentang sugar glider," katanya.
Tantangan hewan nokturnal
Mengelola konten sugar glider memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang sensitif terhadap cahaya.
"Karena sugar glider hewan yang sensitif dengan cahaya matahari jadi untuk take konten agar mereka lebih aktif biasanya dilakukan saat suasana rumah redup, atau juga dilakukan kontennya siang hari saat mereka cenderung lebih pasif biasanya untuk konten bareng aku atau take video endorse," jelas Siska.
Keunikan fisik dan kemampuan meluncur menjadi daya tarik utama yang memancing rasa penasaran warganet.
"Karena keunikan atau perlakuan berbeda itu mendatangkan pertanyaan dari para penonton jadi disana kita bisa sharing lewat komentar dan lainnya," tuturnya.
Konsistensi dan peluang usaha
Pertumbuhan akun Siska terbilang cepat, dari ratusan pengikut hingga hampir 10.000.
Peluang penghasilan pun mulai terbuka, meski masih terbatas.
"Kurang lebih 300.000 karena memang produk sugar glider kan jarang ya terus aku juga emang jarang menerima endorse hanya beberapa produk saja," ujar dia.
Selain menjadi kreator, Siska juga merintis usaha pouch rajut buatannya sendiri.
Ia tetap menjaga konsistensi dengan mengunggah dua hingga tiga konten per minggu, sekaligus memastikan akunnya menjadi sumber edukasi yang akurat.
"Tantangannya paling kita benar benar harus banyak mempelajari tentang hewannya, terlebih banyak orang yang mencari tau edukasi dari akun saya jadi saya harus benar benar memberi tips yang aman dan sesuai," ungkap dia.
Tak cukup lucu, harus unik Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai keberhasilan hewan menjadi selebritas media sosial sangat bergantung pada keunikan.
"Karena sekali lagi tadi harus ada keunikan dari binatang itu kalau binatang itu cuma binatang reguler ya tidak bisa punya satu hal yang menarik bagi orang tentunya tidak akan bisa menjadi selebriti," jelas Rissalwan.
Ia menambahkan, ketertarikan audiens juga dipengaruhi minat personal serta interaksi antara pemilik dan hewan.
"Misalnya kucing ya dia akan mencari konten-konten yang menarik dengan kucing dan tadi kucing itu punya keunikan ya. Misalnya bulunya bagus, peranakan dari mana, punya kemampilan khusus. Burung juga gitu ya," kata dia.
Antara hiburan dan kesejahteraan hewan Elsa dari komunitas pecinta kucing menilai konten hewan kini berkembang, tidak hanya menampilkan sisi lucu, tetapi juga karakter dan alur cerita.
Menurutnya, tren ini membawa dampak positif, mulai dari edukasi hingga hiburan bagi publik.
“Salah satunya meningkatkan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare), mengedukasi tentang cara merawat kucing yang benar, dan menjadi hiburan (stress relief) bagi penontonnya," ujar Elsa.
Namun, ia mengingatkan agar kreator tetap mengutamakan kenyamanan hewan.
“Jika ingin menjadikan kucingmu bintang media sosial, ingatlah kesejahteraan kucing lebih utama daripada jumlah pengikut. Pahami Bahasa Tubuh, jika ekornya bergerak cepat atau telinganya turun, artinya dia tidak nyaman. Berhenti merekam," jelasnya. Ia juga mendorong kreator untuk berperan sebagai edukator, termasuk menyampaikan pentingnya sterilisasi dan vaksinasi dalam perawatan hewan peliharaan.
Artikel Selengkapnya: Kompas.com